Judul Buku : Disforia Inersia
Pengarang : Wira Nagara
Penerbit : Mediakita
Tahun Terbit : 2018
Tebal Halaman : 146 halaman
“...sebab bahagia hanya kesedihan yang tinggal menunggu waktu…”
Disforia Inersia, buku kedua dari Wira Nagara setelah Distilasi Alkena. Tidak jauh berbeda dengan Distilasi Alkena, Disforia Inersia juga bukanlah buku ilmiah, tapi masih berkisah tentang perjalanan hati tokoh utama yang tak lain adalah si penulis sendiri (book review Distilasi Alkena bisa dibaca di sini). Kisah di buku ini diawali dengan perjalanannya menuju ibukota dalam rangka bertanding menjadi finalis kompetisi Stand Up Comedy Indonesia musim kelima. Yup, sebelum menerbitkan buku, Wira Nagara adalah seorang Stand Up Comedian yang menjadi finalis 16 besar SUCI 5. Namun sayangnya, dia gagal dan harus pulang di minggu ketujuh atau di malam 10 besar. Siapa sangka bahwa sang komika ternyata melenggang di atas pentas SUCI 5 dengan membawa luka hati atas kehilangan seseorang yang dicintainya.
Setelah dari SUCI 5, Wira Nagara ditawari oleh penerbit untuk menerbitkan buku yang akhirnya menjadi medianya menuliskan lara. Setelah buku pertamanya -Distilasi Alkena- terbit, dia merasa lebih lega. Dan dari sanalah, langkahnya untuk kembali bangkit dari luka dia mulai. Jika Distilasi Alkena berkisah tentang perjalanan patah hati, maka Disforia Inersia berkisah tentang perjalanan untuk move on, menjelajah banyak hati, dan mendekati seseorang yang diharapkan menjadi pelabuhan hatinya.
Kisah yang dituliskannya cukup banyak, meski bukunya tidak terlalu tebal. Bertemu wanita dari satu tempat ke tempat lain, cafe, kampus, burjo, hingga media sosial, kemudian tertarik, jatuh cinta, jalan bersama, namun kemudian harus berpisah. Salah satu hal yang kemudian membuat buku ini menarik adalah cerita-ceritanya yang begitu relevan dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia yang dianugerahi rasa cinta sekaligus rasa sakit.
Cerita-ceritanya yang sederhana dan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian dikemas dengan gaya bahasa Wira Nagara yang menyentuh, membuat buku ini cukup worth it. Saya pribadi, lebih “betah” membaca buku ini daripada buku pendahulunya.
Satu cerita yang dikisahkan Wira Nagara di buku ini adalah ketika dia mulai memasuki dunia kampus. Dia menaruh rasa suka pada seniornya yang merupakan jurnalis kampus kala itu. Atas rasa suka itulah, Wira memaksa dirinya untuk bersikap lebih dewasa agar dianggap pantas bersanding dengan seniornya itu. Namun sayang seribu sayang, perasaan yang manis itu berubah menjadi masam karena seniornya itu tak memiliki rasa yang sama dan tetap menganggapnya hanya sebagai junior.
Wira Nagara masih konsisten membumbui buku keduanya ini dengan quotes menarik dan juga gambar-gambar ilustrasi yang ia buat sendiri, seperti di buku pertama. Beberapa quotes yang menarik adalah:
“Mendung cukup kau lihat di langit, di matamu cinta harus tetap terbit”
“Kau sudah mentari di hidupku, tak perlu jadi senja untuk tenggelam atau fajar untuk terbit. Begini saja, jadi porosku, untuk rinduku mengitarimu”
“Menangislah, santaikan, luapkan. Terkadang, air mata itu anugerah bagi setiap hati yang patah”
“Pilu hati ingin berpemilik namun yang ditaksir tak pernah tertarik”
Lalu Disforia Inersia sendiri artinya apa? Wira Nagara menjelaskannya di akhir buku, dalam penutup kisah.
Disforia : Keadaan tidak tenang/gelisah atau ketidakpuasan yang mendalam
Inersia : Kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya
Analogi : Kegelisahan seseorang yang masih menolak untuk melangkah setelah berbagai hal yang menyiksa batinnya, yang pada akhirnya harus dia terima.
Disforia Inersia
Jika dalam buku sebelumnya, Distilasi Alkena, Wira Nagara lebih mengedepankan rima dan diksi, maka tidak jauh berbeda dengan buku Disforia Inersia ini. Meski porsinya, menurut saya, lebih banyak di Distilasi Alkena. Sederhananya begini, jika Distilasi Alkena lebih condong ke sajak atau puisi, Disforia Inersia ini adalah semi. Puisi semi prosa. Tapi tentu saja masih amat sangat bisa dinikmati.



0 Komentar