Gambar oleh Alexandra Haynak dari Pixabay


Nuansa yang indah terasa. Ribuan burung mulai terbang menuju sarangnya.Putik-putik bunga serentak menundukkan kepalanya seolah bersembunyi dari pemangsa yang hendak menyesap manisnya nectar bunga. Dan langit pun mulai mengibaskan sayap gelap. Perlahan senja berubah menjadi malam. Sang bulan hadir menemani bumi bersama sinarnya. Bintang-bintang bertaburan dengan kerlingan cahayanya yang berebut menyinari bumi di malam hari. Inikah suasana yang di inginkan Rania? Ya, dia memang menikmati suasana indah di malam purnama itu. Namun, hatinya tak pernah tenang sejak ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam hatinya. Sesuatu yang terus membuatnya merasa rindu, sesuatu yang dulu selalu menebarkan keceriaan dalam dadanya. Kini, ia tak tahu bagaimana cara mendapatkannya kembali

***

Angin bertiup kencang. Dan kini hujan pun turut hadir bersama datangnya angin. Gadis itu mematikan sambungan televisinya, takut akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Hahh.. Ia mendesah pelan. Rania merasakan bosan yang menyergap dirinya. Baru saja ia akan pergi menuju kamar ketika mendengar dering handphonenya. Ada pesan masuk, dari nomor yang sudah sangat dikenalnya. Ia tersenyum sendiri membaca pesan di layar handphone. Sore.. lagi apa?oh ya, kamu sebenarnya siapa sih? Kan kamu udah tahu siapa aku, masak aku nggak tahu siapa kamu.. Ia cekikikan. Lucu juga ya, ngerjain orang, pikirnya dalam hati. Ia pun segera membalas pesan itu tanpa mengakui siapa dirinya.

Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu sehingga ia melakukan hal yang ia sendiri menganggapnya konyol. Terlebih lagi, orang yang ia kerjai adalah teman bermainnya sewaktu kecil yang kini jarang berkomunikasi dengan Rania. Jika bertemu pun mereka hanya saling diam dan tersenyum, padahal mereka ada di satu sekolah yang sama. Rania setahun lebih muda darinya. Dan bisa dibilang, ia masih bersaudara jauh dengan orang itu. Meski mengganggapnya konyol, tapi Rania menikmati ini, dan hal ini lucu baginya. Orang itu punAdit namanyajuga tidak pernah keberatan meskipun ia tidak tahu bahwa orang yang sering berkirim pesan dengannya adalah Rania. Namun di sisi lain, Adit juga selalu menyelidikinya. Hingga suatu saat Adit mulai menebak. Tetapi, Rania masih bisa mengelak dengan berbagai alasan.

Rania tak tahu apa yang akan terjadi jika identitasnya diketahui Adit. Barangkali, pipinya akan memerah dengan rasa malu saat bertemu dengannya. Namun, Rania sendiri yakin, pada akhirnya Adit pasti akan tahu semuanya. Sebenarnya, Rania memulai ide jailnya hanya karena iseng. Iseng yang berlanjut. Dan ia tak tahu apa yang akan dilakukannya nanti jika semuanya terbongkar.


***

Gadis itu benar-benar tampak bahagia bercengkrama bersama teman-temannya. Ia menikmati dunianya kini. Dunia di mana ia merasa nyaman hidup bersama orang-orang yang dicintainya dan mencintainyakeluarga dan teman-temannya.

Rania, coba lihat siapa yang duduk di ujung sana, yang lagi pakai topi, bisik Widy, teman Rania, tiba-tiba. Secara reflek, Rania menoleh.
Oh, itu orangnya?, Tanya temannya yang lain.
Siapa? Aku tidak mengenalnya, jawab Rania sekenanya.
Tapi dia tahu kamu, dia tertarik padamu, kata Widy
Ah, sok tahu kamu
Loh, beneran. Dia bertanya-tanya tentangmu padaku. Dia dulu kakak kelasku, jadi aku mengenalnya
Ra, Ra, lumayan lho, dia tinggi, putih, dan dan kayaknya orangnya biasa, nggak macem-macem, kakak kelas lagi. Siapa namanya Wid?, tanya Resty.

Rania kembali menoleh, mengamati orang bertopi yang sedang duduk di ujung sana, di depan perpustakaan, bersenda gurau bersama kawan-kawannya. Rania tak memungkiri bahwa ada sesuatu yang menarik dari orang itu. Walaupun ia tak yakin pada apa yang dikatakan temannya dan ia tak mengenal orang itu, tapi tampaknya Rania memang tertarik padanya.
Putra. Namanya Putra, jawab Widy atas pertanyaan Resty.
Ra, nglamun apa? nglamun orang itu?, tanya Resty sambil menyenggol lengan Rania. Rania tersadar dari lamunannya.
Oh, nggak kok.

Rania mulai menata kembali pikirannya. Benarkah ia tertarik pada orang itu? Pada Putra, orang yang sama sekali belum dikenalnya? Mungkinkah memang ada hal seperti ini? Rania tak tahu. Meski berusaha menatanya kembali, tapi pikirannya belum mampu beranjak dari orang itu. Meski matanya beralih pada pandangan ke lantai bawah, pikirannya... Ohh, lantai bawah?Ada sesuatu di bawah sana. Ya, ia melihat seseorang yang juga duduk di depan kelas, di lantai bawah. Ia melihat Adit. Hati dan bibirnya menahan tawa. Rania mengenal Adit sebagai orang yang baik, ia ramah dan murah senyum. Pada saat yang bersamaan, Adit menengok ke atas. Rania segera mengalihkan pandangannya, ia takut Adit akan curiga padanya jika ia terus melihat ke lantai bawah.

MerekaRania dan teman-temannyaberanjak masuk ke kelas saat mendengar lonceng keras itu berbunyi. Hari ini ujian Bahasa Jepang. Ahh, Rania selalu menyukai pelajaran bahasa asing. Baginya itu menarik, mengucapkan kata-kata yang tak pernah diucapkannya. Ia mempunyai impian untuk bisa pergi ke negara asing suatu saat nanti. Ia ingin melihat indahnya musim semi di Jepang, menikmati pemandangan di sekeliling bunga sakura berwarna merah muda yang seakan menebarkan kelembutan dan kasih sayang. Ia ingin merasakan angin musim gugur di Paris sambil berjalan menyusuri Sungai Seine, memandang sebuah menara yang tampak anggun berdiri di sana. Ia ingin merasakan dinginnya sentuhan musim dingin di Korea Selatan, menikmati indahnya butiran salju yang turun menyelimuti sebagian bumi. Akankah  semua itu terwujud suatu saat nanti?

Suara lonceng keras itu berbunyi kembali. Rania memasukkan buku yang ada di atas meja ke dalam tas batiknya. Hari yangmenurut sebagian besar siswa merupakan hari-hari pemerasan otak itu telah selesai. Rania menyelesaikan ujian akhir semesternya dengan baik. Ia pulang.

Tepat di persimpangan jalan menuju rumahnya, ia melihat Putra berjalan memasuki sebuah toko buku. Benar, Rania merasa tertarik dengan orang itu. Ada apa dengan perasaannya? Mungkinkah Tidak, Rania tak berani menyimpulkan perasaannya sendiri untuk saat ini.  Tetapi, bagian hatinya yang lain tak memungkiri bahwa Rania memang benar-benar tertarik pada Putra. Kini hatinya harus melawan logikanya.

Larut malam, ketika ia merebahkan tubuhnya, bayangan Putra kembali berkelebat di pelupuk mata. Hatinya kembali berperang dengan logikanya. Peperangan itu tak berhenti. Tak berhenti hingga ia perlahan-lahan terlelap memasuki tidur dan mimpinya. Ia merasakan ada ketenangan dalam jiwanya.

***

Resty adalah teman yang paling dekat dengan Rania. Mereka membawa kedekatan itu dalam sebuah hubungan persahabatan. Dulu, mereka hanya berteman biasa seperti teman yang lain. Berawal dari seringnya mereka bertukar cerita, akhirnya mereka memulai persahabatan itu. Mereka saling mempercayai dan saling menjaga. Menjaga apa saja, termasuk menjaga semua cerita yang mereka bagi bersama. Rania menceritakan apa yang dirasakannya pada Resty. Hari ini, di sekolah, mereka bebas dari kegiatan belajar.

Bisa jadi kau menyukainya, Ra, komentar Resty mendengar cerita Rania.
 Tapi bagaimana mungkin Res, aku sama sekali tak mengenalnya. Bagaimana aku menyukainya?
 Kau ini. Kau tak tahu, cinta itu bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, walaupun kau belum mengenalnya sekalipun
Cinta? Apa Rania merasakannya? Sekarang? Pada Putra? Mm..sepertinya tidak.
Kau terlalu berlebihan Res. Aku tak seperti itu
Ya itulah dirimu Ra, selalu saja bertengkar dengan pi. . .
Tiba-tiba Widy menerobos di tengah-tengah duduk mereka. Mengagetkan Rania dan Resty.
Wid, kau mengagetkan kami, kau tahu?, teriak Resty pada Widy.
Ini, aku dapat pesan singkat dari Lena, katanya Putra kecelakaan waktu mau berangkat, kata Widy tanpa menghiraukan teriakan Resty.

Kecelakaan? Tiba-tiba Rania merasa ada yang menyumbat tenggorokannya, tetapi ia masih sanggup bernafas. Putra kecelakaan? Bagaimana keadaannya?
Dimana Wid? Lalu bagaimana keadaannya? Apa terjadi sesuatu?, Tanya Resty. Sementara Rania hanya diam mematung, mendengar apa yang dikatakan kawannya.
 Katanya tidak terjadi apa-apa. Hanya luka di bagian tangan dan kakinya. Ia langsung pulang ke rumah. Tenang Ra, dia tidak kenapa-kenapa. Tidak usah khawatir, jawab Widy sambil menggoda Rania.
Dia tidak kenapa-kenapa. Syukurlah.. Rania merasakan nafasnya kembali lega. Hanya saja ia tak mampu membalas perkataan Widy. Ia ingin mengelaknya. Tetapi, ia harus mengakui, ia khawatir pada Putra.

***

Liburan telah usai, mereka, para siswa, memulai semester berikutnya dengan suka cita masing-masing. Rania memasuki gerbang sekolah dengan kebahagiaan yang tampak di raut wajahnya yang innocent. Ia terkesiap melihat orang yang berjalan di depannya, Putra. Selama ini ia telah mengagumi Putra. Ia mengingat waktu itu, sewaktu liburan, Putra pernah meneleponnya satu kali. Hanya satu kali, setelah itu tak pernah lagi.

Ia juga melihat Adit sudah duduk di bangku panjang depan kelas Adit sendiri. Hingga sekarang, ia belum juga mengakui keisengan dirinya pada Adit. Sudah cukup lama ia menyembunyikannya, sudah sekitar 1 tahun. Padahal hampir setiap hari mereka berkirim pesan.

Tapi suatu ketika, Adit tahu juga bahwa itu Rania, dan Rania tak bisa mengelak lagi. Pesan singkat dari Adit benar-benar men-sekak mati Rania. Beruntung, Adit tak marah padanya. Justru hal itu membuat mereka semakin dekat.

Aku sudah tahu siapa kamu. Kamu gadis yang tinggal di Jalan Kamboja no.10 kan? Dan kamu punya saudara laki-laki yang lebih muda darimu. Benar?
Kamu tahu juga siapa aku. Baiklah, aku mengaku kalah. Kamu benar. Tapi bagaimana kamu bisa tahu?
Aku punya banyak cara untuk mencari tahunya. Tidak apa-apa kan kalau aku mengetahui siapa dirimu? J
Karena kamu sudah terlanjur tahu, ya sudah, tak apa.
Berarti, kita masih bisa berkomunikasi lewat pesan seperti ini?
Tentu.

Rania merasa sedikit lega sekarang, meski ia merasa malu yang luar biasa. Tetapi perlahan, rasa malu itu berkurang dengan sendirinya dan menguap begitu saja. Ia lega bisa berkomunikasi lagi dengan orang ituwalau hanya lewat pesan tanpa harus menyembunyikan identitasnya lagi. Hal-hal kecil yang menarik yang mereka bicarakan, membuat mereka tak pernah kehabisan bahan. Perhatian-perhatian kecil yang Adit berikan pada Rania, mampu membuat Rania tersenyum, seperti
'Kamu sudah makan hari ini? Kalau belum, cepat makan. Jangan sampai menyusahkan orang lain karena sakit.
Kamu belum tidur? Cewek nggak baik lho tidur larut malam.
Nggak bisa tidur ya? Ini aku kirim bintang buat menemani kamu.
Aku lagi di dekat jalan rumahmu, kenapa kamu nggak kesini? Padahal aku ingin melihat kamu tersenyum padaku. J

Entah kenapa, ketika bertemu dengan Adit, Rania merasa canggung, sehingga saat bertemu, mereka jarang bertegur sapa, hanya saling melempar senyum. Tapi berkomunikasi melalui pesan-pesan itu lebih membuat Rania nyaman.

Suatu ketika, mereka bertemu dalam sebuah acara pertemuan keluarga. Keluarga besar tentunya, karena mereka bersaudara jauh. Meski demikian mereka tak saling menyapa dan bicara. Adit duduk di dekat pintu masuk, sedangkan Rania duduk di dekat jendela kaca. Rania menoleh ke arah tempat duduk Adit, dan pada saat itu Adit sedang memandang ke arahnya. Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Aneh, Rania merasakan sesuatu yang menyusup ke dalam dadanya. Degub jantungnya berkejaran dengan tarikan nafasnya. Perasaan apa ini?

Tak ingin berlama-lama berpandangan seperti itu, Rania mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca besar. Detak jantungnya belum juga kembali normal.

Sesaat setelah acara selesai, Rania pergi ke belakang dan tetap berada di sana bersama keluarganya yang lain. Saat itu juga, ponselnya bordering. Ada pesan masuk. Kamu belum pulang?. Pesan dari Adit rupanya. Belum, balas Rania. Oh ya, sebelumnya maaf kalau aku bertanya seperti ini, kamu kenapa setiap bertemu denganku, kamu selalu bersikap cuek?, balasan dari Adit.

Cuek? Rania tak merasa seperti itu. Ia hanya canggung, ia selalu salah tingkah saat berada di depan Adit. Sungguh, ia tak bermaksud untuk bersikap seperti apa yang dikatakan Adit. Sama sekali tidak.


***

Tubuhnya terasa lelah setelah hampir seharian jalan dan bermain bersama teman-temannya. Sampai di rumah, ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya terasa pusing. Ia nyaris terlelap ketika ada pesan yang masuk dalam ponselnya. Ia berusaha meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Oh, pesan dari Vivi. Vivi bilang, buku catatan kecilnya tak ada, mungkin terbawa oleh Rania. Rania segera mengecek tasnya. Benar, buku Vivi terbawa olehnya. Setelah membalas, Rania kembali merebahkan tubuhnya. Ponselnya kembali berdering. Mungkin pesan itu dari Vivi lagi yang meminta buku catatannya dikembalikan. Dan benar saja dugaan Rania.

Baru beberapa detik berselang, deringan itu kembali ia dengar. Pesan masuk lagi. Ahh, Vi, kau mengganggu istirahatku saja, batin Rania. Setelah menatap layar handphonenya, ternyata pesan itu bukan dari Vivi, tapi dari Adit. Dengan kepala yang terasa pusing, Rania terpaksa membalasi pesan Adit. Pertanyaan-pertanyaan yang aneh dari Adit. Dan hatinya berdebar-debar, ia takut kalau

Dan kali ini mata Rania terbelalak membaca pesan itu. Seperti apa ia harus menjawabnya? Kepalanya semakin terasa pusing dan berat. Konsentrasinya menghilang. Pesan itu terlalu mengejutkannya.
Maaf sebelumnya, tapi apa kamu mengizinkanku untuk menjadi.. maaf, kekasihmu?
Maaf, aku tak mengerti maksudmu. Kepalaku pusing. Aku capek hari ini.
Baiklah, beristirahatlah. Jika kau telah mengerti nanti, katakan padaku.

Rania mendapati dirinya semakin lelah. Ia meletakkan ponselnya begitu saja dan mulai terlelap.

Esok hari, ketika matahari mulai membenamkan dirinya, Rania membuka kembali ponselnya dan membaca pesan Adit sehari lalu. Ia tahu. Jelas ia tahu dan mengerti maksud Adit. Ia juga tahu bahwa ia harus membalas pesan itu. Tapi ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Sekarang aku mengerti maksudmu. Apa kamu sedang bercanda?
Akhirnya kamu mengerti. Tidak. Aku tidak sedang bercanda.
Tapi kenapa?
Karena aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melihatmu, saat dekat denganmu, bahkan saat kau tak ada. Aku tak dapat menjelaskannya. Maaf aku hanya mengatakannya lewat pesan seperti ini. Apa kamu bersedia?

Rania merasakan jantungnya mulai melonjak. Berdebar-debar. Apakah ia juga merasakan hal yang sama? Iya.
Maaf, aku tidak bisa.
Rania tak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Ia tak yakin pada orang itu. Ia tak yakin pada Adit. 
Kenapa?
Rania tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia tak ingin berkata bahwa ia tak yakin dan tak percaya pada  Adit. Ia juga tak bisa mengatakan apa yang dirasakannya sekarang.
Karena aku memang tak ingin berpacaran. Dan juga.. kita masih bersaudara. Saudara jauh. Maaf.

Ia menyadari hatinya terasa sedikit sakit saat mengatakan hal itu. Hatinya merasakan bahwa ia mulai menyayangi Adit. Tetapi tak mudah baginya untuk percaya begitu saja pada orang itu. Jika Adit hanya bermain-main, ia tahu hatinya akan lebih terasa sakit. Sebenarnya ia tak mau berprasangka buruk pada Adit, hanya saja hatinya belum mampu menerima apa yang dikatakan Adit. Sungguh, ini terlalu mengejutkan baginya.
Baiklah, tak apa-apa. Aku mengerti. Tapi bukan berarti kita berhenti sampai di sini kan? Apa kita masih bisa berkirim pesan seperti ini lagi?
Ya. Tentu saja.
Mm..kalau begitu, lupakan saja apa yang ku katakan padamu kemarin dan hari ini. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apa pun.

Rania mengerutkan keningnya. Melupakannya? Bagaimana bisa? Rania tak akan bisa melakukannya. Bahkan sebelum mencobanya, Rania yakin, ia tak kan bisa melupakan hal itu. Tak mungkin.

***

Langit di luar sana tampak terang. Bukan malam purnama, tapi bulan bersinar cukup cerah. Sebuah bintang yang paling terangmungkin bintang sirius mengerlingkan cahayanya yang menyilaukan. Rania tak bisa memejamkan matanya malam itu. Hatinya melarang raganya untuk tidur. Hatinya tak pernah berhenti memikirkan Adit. Harus ia akui, bahwa ia mulai mencintai laki-laki itu.

Dan tiba-tiba ia teringat pada Putra. Bagaimana perasaannya pada Putra? Tapi perasaan yang seperti apa? Ia menggelengkan kepalanya sendiri. Ia tak pernah mencintai Putra. Rania tak pernah merasakannya walau sedetik pun. Ia hanya tertarik pada Putra, ia menyukainya. Hanya sebatas itu, tak lebih. Dan kekaguman itu, kini perlahan memudar dan menghilang begitu saja.

***

Beberapa hari telah berlalu sejak terakhir kali Adit mengirimkan pesan padanya. Malam itu, Adit mengucapkan selamat malam dan selamat tidur pada Rania, ia berharap Rania mimpi indah. Adit juga mengirimkan pesan bergambar bintang pada Rania. Ia ingin bintang itu menemani tidur Rania. Dan sejak saat itu, Adit tak pernah lagi mengiriminya pesan. Nomornya tak pernah aktif.

Rania mulai merasakan hari-harinya yang semakin sepi. Tanpa Adit. Ia merindukan orang itu, walaupun hampir setiap hari ia melihat Adit di sekolah. Selama ini, ia tak pernah melihat sesuatu yang istimewa dari sisi Adit. Adit bukan orang yang kaya raya, tampan itu relative, dan Adit bukan pula orang dengan otak yang genius. Tapi ia mampu membuat perasaan Rania tak karuan. Tersengat oleh kerinduan yang semakin kuat, dan terombang-ambingkan oleh berita-berita yang membuat nafasnya tercekat.
               
Suatu ketika, saat berada di sekolah, secara tak sengaja ia mendengar dua orang temannya yang sedang berbicara. Ia mendengar nama Adit disebut.
Katanya, April sekarang sama Adit yang kakak kelas dari kelas sebelah itu ya?, Tanya salah satu diantara mereka.
Masak? Aku baru tahu.
Aku mendengar seperti itu. Tapi sepertinya mereka belum berpacaran. Mereka baru dekat

Tiba-tiba saja, Rania merasa ada sesuatu yang menghantam kepalanya. Berat. Ia mencengkeram roknya kuat-kuat dengan sebelah tangan. Sementara telapak tangannya yang lain menekan dadanya. Ada yang terasa sakit disana. Apa yang baru saja didengarnya itu benar? Ia nyaris tak mempercayai pendengarannya sendiri. Tapi ia mendengar kalimat yang diucapkan dua orang temannya itu dengan jelas. Jelas sekali.

***

Semua masih terasa berat baginya meski ia tak tahu pasti seperti apa hubungan antara Adit dan April. Ia pernah sekali melihat mereka jalan besama. Hatinya berusaha keras melupakan perasaannya pada orang itu. Meski itu sulit, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan mampu melakukannya.

Rania menjalani harinya seperti biasa. Berangkat ke sekolah seperti biasa. Belajar dengan baik, dan bercanda bersama teman-temannya.

***

Setelah tiga tahun. . .    
Rania tak tahu pasti kapan perasaannya terhadap Adit mulai muncul. Tapi hingga saat ini, ia merasakan itu sudah lebih dari 3 tahun. Dan nyatanya, ia belum mampu melupakan perasaan itu hingga sekarang. Kini, ia tak pernah bertemu lagi dengan Adit. Meskipun pernah, itu hanya dalam acara besar keluarga, dan itu sangat jarang.

Sejak kehilangan komunikasi dengan Adit, Rania merasakan hari-harinya yang sepi. Hatinya ingin selalu bersama orang itu. Ia selalu memikirkannya. Ia merindukannya. Sangat merindukannya, orang yang dulu benar-benar bisa membuat hari-harinya berbeda. Hatinya kehilangan sosok yang selalu membuatnya bahagia.

Sore ini langit tampak berwarna jingga. Sangat cerah. Ia memandang langit di luar sana lewat jendela kamarnya sambil mendengarkan lagu favoritnya. Sesekali ia menundukkan kepala dan menopang dagunya di atas kedua lutut yang ditekuknya setinggi dada. Dalam hati, ia kembali mengingat Adit. Saat mengangkat kepalanya, tanpa sengaja ia melihat sebuah buku kecil yang terselip di antara deretan buku-buku tebal di meja belajarnya. Ia mengambil buku itu. Oh, buku hariannya dulu. Buku itu sudah lama. Ia coba membukanya dan membacanya kembali.

Baru kali ini aku berbuat sejail ini. Membuat orang penasaran hingga setahun lebih. Padahal aku sendiri adalah orang yang mudah penasaran  12 Februari 2008
Dia sudah tahu siapa aku. Aduh, betapa malunya aku. Tapi tak apa. Aku lega sekarang. Terima kasih karena tak marah padaku.. J 4 Maret 2008
Astaga! Dia menembakku hari ini. Apa ini sungguhan? Aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Jantungku hampir saja copot. Tapi dengan terpaksa aku menolaknya, L. Maaf, aku belum yakin padamu.. 10 Mei 2008
Hari ini dia ulang tahun. Aku ingin mengucapkannya, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Semoga dia bahagia.. 24 Juni 2008
Aku mendengar dia dekat dengan seseorang. Aku merasakan sakit di sini, di dalam hati. Apa yang harus kulakukan? Tuhan, tolong, bantu aku melupakan perasaan ini padanya.. 8 Agustus 2008
Hari ini aku benar-benar berdebar-debar. Aku bertemu dengannya dalam sebuah acara. Tanpa sengaja, pandanganku bertemu dengan pandangannya, berkali-kali. Tatapannya aku tak dapat menjelaskan. Baru aku sadari, aku pernah mengatakan bahwa tak ada yang istimewa darinya. Tapi hari ini menemukannya, tatapan itu. Saat melihat tatapannya padaku, seolah aku mengetahui apa yang dirasakannya.  Hanya, aku tak mau menyimpulkannya. Itu hanya pendapatku. Aku tak pernah tahu seperti apa perasaannya. 27 Februari 2009
Dia datang lagi. Ia mengirimiku pesan lagi. Kau tahu betapa bahagianya aku?. Tapi harus ku akui ada yang berubah darinya. Kata-katanya tak sehangat dulu. Meskipun begitu, aku tetap senang.. 11 April 2009
Sebenarnya apa maunya? Ia datang kemudian pergi begitu saja. Datang lagi, dan pergi lagi. Seenaknya sendiri. Kenapa kau menghubungiku lagi waktu itu jika akhirnya kau menghilang begitu saja tanpa sepatah kata pun.. 10 Juni 2009
Jantungku kembali terlonjak. Aku merasakan musim semi dalam hatiku. Aku bertemu dengannya lagi. Kali ini, kami berjabat tangan. Dan pada saat itu, ia menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Kemudian ia tersenyum sambil menyebut namaku. Baru kali ini ia menyebut namaku tepat di depan mataku. Astaga, aku semakin tak bisa melupakannya. 10 Januari 2010

***

Dan sesuatu itu, ia masih belum tahu bagaimana cara memperolehnya kembali. Ia tak bisa melupakan perasaannya hingga sekarang. Ia juga tak pernah tahu seperti apa perasaan orang yang dicintainya.  AliRania tak pernah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Terkadang ia merasa lelah. Lelah terhadap perasaannya sendiri. Semakin keras ia berusaha melupakan perasaan itu, maka semakin dalam pula perasaan itu menancap dalam hatinya, dan semakin kuat ia merindukan orang itu. Kini, ia hanya perlu membiarkan perasaannya tetap seperti itu. Biarlah waktu yang akan mengubah semuanya..