Gadis manis bertubuh mungil itu sedang duduk santai di kursi ruang tengah rumahnya. Tangannya membawa sesuatu. Matanya tertuju pada benda yang dibawanya. Sebuah novel. Ia begitu menikmati kegiatannya membaca novel, tak peduli jarum pendek di jam dindingnya sudah menunjuk angka 11.

            Tiba-tiba ia berhenti membaca. Takut bukan main. Gelap. Tak ada cahaya. Rupanya listrik mati. Entah karena orang tuanya sudah membayar rekening listrik atau belum. Yang jelas ia ketakutan. Dia sedang di rumah sendirian. Orang tuanya pergi 2 hari ke rumah neneknya yang sakit. Kakaknya tak ada, dia sedang kuliah di Bandung.

            Ia mencoba bangkit dari tempat duduknya. Mencari-cari sesuatu yang diharapkan dapat menolongnya dari rasa takut saat itu. Namun takdir berkata lain, ia tak menemukannya. ”Kalau senter tak mau menerangiku malam ini, biarlah Tuhan yang menerangiku berjalan menuju alam mimpiku”,katanya pada diri sendiri yang terselip do'a itu.

            Ia berjalan menuju kamar dengan meraba-raba dinding rumahnya sebagai pegangan agar tidak terjatuh dan menabrak sesuatu. Ia ingin tidur.

            Masih gelap. Tak berapa lama, ada cahaya masuk ke dalam matanya. Ia berada di tempat yang tak asing baginya, di kamar mama. Ia melihat meja mungil dengan satu laci di sudut kamar. Ia mendekati meja itu. Ada sebuah surat di dalam laci. Tertulis dalam amplop biru yanga warnanya pudar;Untuk Si Kecil Silla. Baru saja Silla akan membuka surat itu, tiba-tiba ada seorang wanita cantik masuk ke kamar mama dengan tersenyum. Ia merasa pernah melihat wanita itu, tapi ia tak mengenalnya. Wanita itu mendekat, memeluknya, lalu pergi. Ia ingin mengejar, tapi kakinya terasa kaku, tangannya tak dapat digerakkan untuk membuka surat yang ia pegang.

            Silla terperanjat dari tempat tidur. Ia terjaga dan masih gelap. “Oh Tuhan, ternyata hanya mimpi”, ucapnya dengan suara bergetar. Ia merasa gerah. Bajunya terasa basah oleh keringat. Silla tak bisa lagi memejamkan mata hingga listrik menyala satu jam setelahnya. Ia melihat jam di dinding kamarnya. Pukul 02.30. Terbesit di kepalanya untuk masuk ke kamar mama.

            Silla membuka pintu dengan pelan. Melihat sekeliling kamar mama. Memang ada meja kecil di sana. Silla mendekat dan membuka laci. Ia berharap Tuhan tidak marah padanya karena dia telah lancang masuk kamar orang, walaupun kamar mamanya sendiri.

            Tak ada barang berharga di laci meja. Tak ada juga surat beramplop biru yang ia lihat dalam mimpinya beberapa lalu. Yang ada hanya sebuah album foto. Kelihatannya sudah lama. Silla mengambilnya dan duduk di tepi ranjang kamar mama. Ia membuka album dan mengamati fotonya satu per satu. Ia tersenyum. Itu adalah fotonya bersama mama, ayah, dan kakaknya sewaktu kecil. Di lembaran terakhir Silla terbelalak. Ada fotonya bersama seseorang. Seorang wanita yang sangat cantik. Hanya berdua.

            “Seperti pernah melihat...”, gumam Silla lirih. ”Astaga!wanita ini, bukankah ia yang ada dalam mimpiku tadi?”, lanjutnya dengan suara yang lebih keras. Ia terdiam untuk beberapa lama. Pikirannya melayang-layang. “Siapa wanita ini?apa hubunganku dengannya?apa hubungannya dengan mimpi dan surat itu?”, tanyanya dalam pikiran.

            Tak terasa adzan subuh berkumandang. Membuyarkan lamunannya. Ia menutup album foto dan mengembalikan ke tempatnya.

            Ia tak lagi memikirkan hal itu. Ia tak mau tahu wanita itu, surat itu, dan album foto itu. Ia tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kadang ia merasa gelisah. Tak tahu kenapa.

            “Ah, kalau saja hari itu PLN tidak mematikan listrik mendadak dan tidak mati lampu, mungin aku tidak akan bermimpi tentang hal yang membuatku gelisah seperti ini”, Silla berdecak pelan.

            Lalu, apa hubungan semua itu dengan PLN dan mati lampu?. Entahlah, hanya Silla yang tahu.

*******
NB : Cerpen ini saya buat ketika memenuhi tugas Bahasa Indonesia waktu kelas X SMA :)